AKU BERIMAN, MAKA AKU BERTANYA
Kajian-Kajian Masuk Akal dan Masuk Hati Untuk Meraih Iman Sejati
Katalog Dalam Terbitan
Diterjemahkan dari bagian pertama Losing My Religion: A Call for Help karangan Jeffrey Lang
Amana Publications, Beltsville, Maryland
2004
Penerjemah: Agung Prihantono
PT. SERAMBI ILMU SEMESTA
April 2007
Jika ditanya mengapa Prof. Jeffrey Lang masuk Islam dua dasawarsa silam, jawabannya singkat saja: Al-Qur’an. Bacalah
al-Qur’an dengan terus bertanya, niscaya segala tanya akan terjawab. Itulah pengalaman tak terlupakan dari Prof. Lang, sebuah dialog ruhani yang menantang sekaligus menyejukkan. Berbagai gugatan dan kegelisahan akalnya
terjawab secara meyakinkan dalam al-Qur’an.
Kini – Islam menjadi agama paling pesat perkembangannya di Amerika, terbesar kedua setelah Kristen, dan paling gencar dicitrakan buruk – giliran sang profesor yang digugat untuk menjawab. Generasi Islam setelahnya mengalami banyak kesukaran untuk merengkuh Islam ditengah-tengah budaya sekuler. Merekapun melemparkan pertanyaan-pertanyaan kritis, bahkan subversif, seputar Islam: autentisitas al-Qur’an, sifa-sifat Allah, derita manusia dan keadilan Allah, kenabian Muhammad dan pernikahan beliau, pemindahan kiblat, serta dinamika keberagaman muslim kontemporer lainnya.
Apa adanya, objektif, dan tak mengelak dari kontroversi. Itulah gaya Prof. Lang menjawab pertanyaan. Menurutnya, pertanyaan rasional tidak merongrong iman. Justru, untuk menggapai iman sejati, kita harus membebaskan diri dari tradisi dan memeriksa keyakinan-keyakinan kita secara rasional. Jawaban-jawaban Prof. Lang tidak hanya logis dan tak terbantahkan, tapi juga menyegarkan iman lewat penuturan pengalaman-pengalaman spiritualnya.
Buku ini mengulas banyak pertanyaan yang dianggap tabu dilontarkan di masjid-masjid atau forum-forum keagamaan konservatif. Uniknya, banyak penanya di buku ini yang mengakhiri pertanyaan mereka dengan kekhawatirkan dianggap ateis atau subversif kepada Tuhan. Ini artinya, mereka bertanya karena masih beriman dan butuh alasan meyakinkan; karena mereka mengaktifkan akal dalam mengimani Allah.… (book statement)
Bukankah Nabi Ibrahim memohon kepada Allah menunjukkan bukti kekuasaan-Nya? Demikian pinta Sang Nabi untuk meneguhkan keyakinan-keyakinannya akan ketauhidan Allah. Apa yang Allah tunjukkan pada Ibrahim AS? Beliau diperintahkan Allah untuk mencari 4 ekor binatang bersayap (bangsa burung) yang masing-masing berbeda, memenggal kepalanya dan menempatkan badan dan kepala binatang-binatang tersebut pada puncak bukit yang berbeda dan saling bersilangan…. Diperintahkan padanya beliau untuk memanggil bangkai-bangkai burung yang telah terpenggal kepala dan badannya….
Demikianlah Allah menunjukkan kekuasaan-Nya, burung yang tersebut menghampiri Sang Nabi atas izin-Nya. Bukti bahwa para Nabi tentu bertanya pada Tuhannya, setidaknya itu dapat kita lihat sejak kata “iman” itu muncul. Sang Nabi bukannya meragukan atas keimanannya, melainkan “agar jiwaku lebih tenteram dengan imanku!”. Atas nama keimananku, maka aku bertanya.
Sesuai dengan apa yang telah Prof. Lang tulis dalam bukunya “Aku Beriman, Maka Aku Bertanya”. Mempertanyakan hal-hal mulai dari perihal dasar baik itu autentisitas Al-Qur’an, sampai dengan permasalahan kegelisahan-kegelisahan saudara-saudara kaum Muslim lain. Seperti halnya Nabi Ibrahim, tentunya tidak sedikit kaum Muslim yang mempertanyakan perihal agamanya untuk meneguhkan keimanan.
Sebagai lingkup kajiannya, Prof. Lang mengambil cakupan wilayah Muslim di Amerika Serikat. Namun tidak menutup kemungkinkan hal ini dapat berlaku bagi umat Muslim di tempat lain. Sederhananya, beliau merujuk pada Muslim generasi kedua di Amerika. Yang mana Muslim generasi kedua adalah mereka-mereka yang terlahir dari keturunan Muslim dan tentunya “mau tidak mau” juga beragama Islam. Sedangkan relevansinya bagi kita adalah bahwa kebanyakan dari kita terlahir sebagai orang Islam (mayoritas di Indonesia). Sehingga apabila diruntunkan berdasarkan generasi sudah barang tentu tidak dapat disebut sebagai muslim generasi kedua, melainkan muslim generasi ke-n (seperti dalam matematika, fariabel n adalah bilangan yang … buanyak lagi !!!).
Menjadi generasi muslim kedua terlebih lagi generasi muslim ke-n (baca “en”) dengan perkembangan lingkungan secara mikro maupun makro bersifat sekuler ataupun materialistis, sangatlah berat tantangannya. Analoginya berupa permainan tebak kata secara estafet, dimana orang pertama menerima beberapa kalimat, diteruskan ke orang kedua, ketiga, dan seterusnya. Kalimat yang disampaikan pihak pertama sampai dengan pihak yang terakhir lebih cenderung mengalami perbedaan (distorsi). Dengan demikian, pendidikan maupun pola penyampaian ilmu generasi muslim pertama dan kedua (termasuk ke-n) memiliki perbedaan/kesenjangan beriringan dengan lingkungan yang kian materialistik.
Perkembangan budaya, terutama dalam hal pendidikan (saat ini dan kedepannya) cenderung untuk mendorong anak-anak didiknya untuk kritis dalam menanggapi suatu isyu. Kritis diantaranya dengan mencoba mencari jawaban dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan beserta argumentasi yang mendukung hal tersebut. Bagi muslim generasi kedua, tidak sedikit diantara mereka yang telah sampai di “persimpangan jalan”. Persimpangan antara nilai-nilai ajaran Islam yang kian lama kian dipandang “meragukan” dengan budaya baru populer saat ini. Ajaran Islam alih-alih menyuguhkan banyaknya larangan, sangat berbeda halnya dengan budaya populer di sisi lain, nyaris tanpa larangan (berbanding terbalik). Mode yang “cool”, seni “bertelanjang” sebagai suguhan artistik, melayangnya jiwa dengan “sakau”, sampai dengan free-ML (free zinah) sebagai sebuah aktivitas layaknya makanan tanpa pandang halal-haram dalam mendapatkannya. Bukankah lebih banyak tersaji saat ini?
Tidak disangkal bahwa suguhan-suguhan budaya populer sangat menghauskan persis seperti orang yang kehausan dipadang pasir. Atas pantangan yang diajarkan Islam, sebagai generasi yang terbiasa kritis fakta di lapangan dapat dijadikan pijakan dalam mengajukan pertanyaan (sekalipun tidak kritis, tidak sedikit diantara mereka juga mempertanyakan). Pertanyaan dimulai dari benarkah ajaran ini (Islam)? Dari siapa datangnya? Siapakah Allah? Mengapa Allah menciptakan kita?Mengapa Ia seolah menjadikan banyak manusia menderita? Ketika bertanya soal sumbernya, maka akan banyak pertanyaan sekitaran tentang teologis.
Setelah pertanyaan-pertanyaan teologis, kembali pertanyaan kepada sang penyampai risalah, Nabi Muhammad SAW. Siapakah beliau Muhammad bin Abdullah? Benarkah Al-Qur’an bukan tulisan beliau? Kenapa beliau menikahi sepupunya yang juga mantan istri anak angkatnya? Mengapa beliau menikahi gadis belia, lebih-lebih mungkin dapat disebut sebagai anak dibawah umur? Mengapa beliau diperintahkan memindahkan arah kiblat ke Ka’bah?
Sampai pada tingkat pertanyaan diatas, kendati telah menyakini bahwa ia telah percaya kepada ajaran Islam, muncul pertanyaan susulan. Bukankah agama itu sama saja? Bukankah agama sama-sama mengajarkan tentang kasih sayang, tolong-menolong, saling memberi, menghargai, melindungi dan seterusnya? Kenapa jika ingin berbuat baik mesti beragama Islam? Itu lebih merupakan gugatan-gugatan atas agama Islam, yang mana dijawab dalam bab Menjawab Gugatan Terhadap Agamaku. Dan tidak sedikit setelah gugatan atas agama, diantara kaum muslim juga banyak mengalami kegelisahan. Kegelisahan-kegelisahan yang mengganggu fikiran dan pada akhirnya juga meruntunkan pertanyaan baru. Benarkah kegelisahannya itu merupakan keraguan?
Sebagai generasi muslim, ketika menyuguhkan pertanyaan banyak diantaranya dianggap tabu, tidak beriman atau bahkan diklaim murtad oleh mereka yang dalam hal ini lebih teguh keyakinan agamanya. Bagaimana nasibnya dengan generasi muslim kedua dan ke-n yang terkadang memang belum memahami agama ini dengan lengkap? Tidak semata karena ketidaktahuannya, faktor intervensi budaya populer saat ini juga menuntut jawaban-jawaban atas pertanyaan diatas dari perspektif yang “fresh”, rasional dan tak terbantahkan.
Bersama Prof. Jeffrey Lang, menjawab atas pertanyaan agama, gugatan-gugatan dan kegelisahan secara logis, pengalaman spiritualnya dan tentunya menjawab semua itu dengan Al-Qur’an. Bagi mereka muslim generasi kedua, generasi ke-n ataupun muslim yang belum tahu arah dari persimpangan antara jalan yang lurus dan jalan yang menggiurkan kenikmatannya, budaya populer materialistis. Memperjelas petunjuk-petunjuk yang mulai kabur, mari bertanya apa yang tidak kita mengerti dan tidak ketahui terlebih lagi meragukan tentang agama ini, Islam. Bertanya layaknya sang Nabi Ibrahim AS, aku beriman maka aku bertanya untuk meneguhkan dan menenteramkan iman ini. Wallahu’alam.



